
Feature – Menyusuri jejak Andalusia di jantung Prancis: Sehari di Masjid Agung Paris

Foto bertanggal 27 Juni 2026 ini menunjukkan Masjid Agung Paris di Prancis yang memiliki keunikan arsitektur Andalusia dan Maroko. (Indonesia Window)
Masjid Agung Paris berdiri di atas lahan seluas sekitar 7.500 meter persegi. Di dalamnya terdapat taman bergaya Andalusia seluas sekitar 3.500 meter persegi yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pengunjung.
Paris, Prancis (Indonesia Window) – Di sela-sela perjalanan jurnalistik ke Paris, Prancis, penulis menyempatkan diri mengunjungi Masjid Agung Paris, sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan kekayaan budaya Islam, terutama warisan arsitektur Andalusia dan Maroko.
Terik matahari yang menyelimuti Paris pada siang hari, 27 Juni 2026, dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius, tidak menyurutkan langkah wartawan Indonesia Window untuk menempuh perjalanan dari kawasan pinggiran (suburb) Sartrouville, Departemen Yvelines, menuju Masjid Agung Paris.
Sesampainya di masjid yang mampu menampung sekitar 1.000 jamaah untuk shalat berjamaah itu, kesan pertama langsung tertuju pada keindahan arsitekturnya. Bangunan masjid dihiasi keramik ‘zellige’, mosaik geometris berwarna biru, hijau, dan putih yang berkilauan, hasil karya para pengrajin khusus dari Afrika Utara. Ornamen tersebut menghadirkan nuansa khas Maghribi yang begitu kuat di tengah ibu kota Prancis.
Penulis kemudian memasuki ruang utama masjid yang menjadi pusat kegiatan ibadah. Di dalamnya terdapat mihrab sebagai tempat imam memimpin shalat berjamaah, mimbar kayu setinggi kurang lebih tiga kali tinggi orang dewasa, serta kubah berhias ukiran kayu yang terlihat anggun dari bagian dalam bangunan.

Sebelum melanjutkan penjelajahan kompleks masjid, penulis berkesempatan bertemu dengan Imam Besar Masjid Agung Paris, Dr. Khaled Larbi. Dalam wawancara tersebut, dia menjelaskan bahwa pembangunan Masjid Agung Paris dimulai pada 1922 dan rampung pada 1926.
Ruang sholat utama di salah satu masjid tertua di Prancis itu memiliki panjang sekitar 140 hingga 141 meter dan lebar sekitar 47 meter.
Secara keseluruhan, kompleks Masjid Agung Paris berdiri di atas lahan seluas sekitar 7.500 meter persegi. Di dalamnya terdapat taman bergaya Andalusia seluas sekitar 3.500 meter persegi yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pengunjung.
Menurut Dr. Khaled, arsitektur masjid ini terinspirasi dari gaya Andalusia di Semenanjung Iberia serta gaya Maghribi dari Maroko. Kompleks tersebut dilengkapi sejumlah halaman dalam (patio), taman yang asri, dan sebuah menara setinggi 33 meter yang menjadi penanda khas bangunan.
Dia juga menjelaskan bahwa hingga kini sebagian besar pembiayaan operasional Masjid Agung Paris masih berasal dari Aljazair. Sementara itu, sebagian lainnya diperoleh dari sumbangan para donatur di Prancis maupun dari berbagai negara lain.
Usai berbincang dengan Dr. Khaled, penulis melanjutkan perjalanan menyusuri sudut-sudut lain kompleks masjid. Peturasan dan tempat wudhu tampak bersih serta terawat. Di area lain terdapat toko yang menjual berbagai merchandise dan suvenir bertema Masjid Agung Paris, sementara selasar-selasar bangunan memperlihatkan perpaduan keindahan arsitektur dengan konstruksi yang kokoh.
Perjalanan kemudian membawa penulis ke aula Emir Abdel Kader, sebuah ruang yang didedikasikan untuk mengenang tokoh besar asal Aljazair tersebut. Emir Abdel Kader, yang lahir pada 6 September 1800, dikenal sebagai pemimpin agama, ilmuwan, sekaligus pejuang yang memimpin perlawanan terhadap tentara Prancis.
Pemikiran dan perjuangannya yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan serta penghormatan terhadap hak asasi manusia membuatnya dikagumi banyak kalangan. Bagi banyak orang pada masanya, Emir Abdel Kader dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh pada abad ke-19.
Aula tersebut kini berfungsi sebagai ruang terbuka untuk berdiskusi, berdialog, dan bertukar gagasan. Berbagai tokoh penting dari Prancis maupun negara-negara lain tercatat pernah mengunjunginya.
Setelah meninggalkan Aula Emir Abdel Kader, penulis menikmati suasana taman Masjid Agung Paris yang bersih, teduh, dan menenangkan. Pepohonan yang rimbun, termasuk pohon zaitun dan anggur, berpadu dengan kolam berair jernih yang menciptakan suasana damai di tengah hiruk-pikuk kota Paris.

Sebagai penutup perjalanan, penulis singgah di kafe dan restoran Maroko yang berada di bagian belakang kompleks masjid untuk menikmati makan siang. Satu paket nasi kuskus khas Maroko menjadi pilihan, melengkapi pengalaman menyelami nuansa budaya Afrika Utara di jantung ibu kota Prancis itu.
Selain menyajikan hidangan utama, kafe dan restoran tersebut juga menawarkan aneka kopi, es krim, serta baklava, makanan penutup tradisional yang populer di Turkiye dan berbagai kawasan Timur Tengah.
Laporan ini merupakan bagian dari rangkaian artikel feature yang ditulis Bambang Purwanto selama melakukan peliputan di Paris, Prancis.
Laporan: Bambang Purwanto
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

6 langkah mengahafal Al-Qur'an agar mencapai tujuan
Indonesia
•
06 Aug 2022

Haji1441 – Jamaah terapkan “social distancing” saat tawaf
Indonesia
•
29 Jul 2020

Haji1441 – Khotbah Arafah disimak 100 juta orang, termasuk non Muslim
Indonesia
•
29 Jul 2020

Kisah Nabi Ayyub : Kesabaran berbuah kebahagiaan
Indonesia
•
13 Sep 2020


Berita Terbaru

Wawancara – Imam Besar Masjid Paris ungkap tantangan Muslim di Prancis
Indonesia
•
27 Jun 2026

Ma'had Sabilul Qur'an usung visi besar 2030, siapkan generasi penghafal Al-Qur'an berkelas dunia
Indonesia
•
22 Jun 2026

Al Ghozy Muslimah Center salurkan 1.200 paket daging kurban untuk pengajar Al-Qur’an
Indonesia
•
30 May 2026

Idul Adha ‘ramah lingkungan’, daging kurban dibagi dalam wadah besek
Indonesia
•
28 May 2026
